Mengusung Cita Rasa Khas Banyumas, Mempererat Silaturahmi Alumni Universitas Jenderal Soedirman, dan Menjadi Ruang Kolaborasi Generasi Masa Depan
JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk kehidupan metropolitan Jakarta, sebuah ruang baru yang sarat makna resmi hadir untuk mengobati kerinduan masyarakat Banyumas Raya terhadap kampung halaman. Bukan sekadar restoran atau kafe biasa, The Banjoemas Resto & Cafe hadir sebagai rumah budaya, ruang silaturahmi, pusat kolaborasi alumni, sekaligus etalase kuliner khas Banyumas yang memperkenalkan kekayaan tradisi daerah kepada masyarakat luas.
Berlokasi di kawasan prestisius Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat, The Banjoemas Resto & Cafe resmi dibuka pada Selasa, 9 Juni 2026. Kehadirannya langsung mendapat sambutan hangat dari keluarga besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), tokoh masyarakat Banyumas, pelaku usaha, akademisi, hingga para perantau yang selama ini merindukan suasana kampung halaman di tengah kesibukan ibu kota.
Grand Opening The Banjoemas Resto & Cafe bukan hanya menandai lahirnya destinasi kuliner baru di Jakarta. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi simbol kuat tentang bagaimana persatuan, budaya, pendidikan, dan kewirausahaan dapat bertemu dalam satu ruang yang produktif dan inspiratif.
Acara peresmian dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, Wakil Rektor III Unsoed Prof. Norman Arie Prayogo, para alumni lintas generasi, sivitas akademika, serta berbagai tokoh Banyumas yang selama ini berkiprah di tingkat nasional.
Dalam sambutannya, Prof. Akhmad Sodiq menyampaikan rasa bangga atas terwujudnya sebuah gagasan besar yang lahir dari semangat gotong royong dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.
Menurutnya, The Banjoemas Resto & Cafe merupakan ruang yang menyatukan dua kekuatan besar, yakni keluarga besar Universitas Jenderal Soedirman dan masyarakat Banyumas Raya yang memiliki ikatan emosional, budaya, dan sejarah yang kuat.
“Hari ini kita menyaksikan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Tempat ini bukan hanya tentang makanan dan minuman, tetapi tentang bagaimana kita menjaga hubungan, membangun kebersamaan, serta merawat identitas budaya yang menjadi kebanggaan bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di era modern saat ini, masyarakat membutuhkan ruang yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai kekeluargaan dan persatuan.
Menurutnya, budaya dan kuliner memiliki kekuatan luar biasa dalam menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang sosial maupun profesi.
“Budaya dan kuliner adalah bahasa universal yang dapat menyatukan siapa saja. Ketika seseorang mencicipi makanan khas Banyumas atau mendengar nuansa budaya Banyumasan, maka kenangan masa lalu akan hidup kembali. Tempat ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan memori, persaudaraan, dan masa depan,” katanya.
The Banjoemas Resto & Cafe dibangun dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan restoran modern. Setiap sudut ruangan dirancang untuk menghadirkan nuansa khas Banyumas, mulai dari ornamen tradisional, sentuhan seni lokal, hingga suasana yang mencerminkan keramahan masyarakat Banyumas.
Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati hidangan, tetapi juga merasakan pengalaman budaya yang autentik.
Berbagai menu unggulan khas Banyumas menjadi daya tarik utama restoran ini. Mulai dari mendoan yang legendaris, soto Sokaraja, getuk goreng, pecel Banyumas, hingga beragam sajian tradisional lainnya yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Banyumas selama puluhan tahun.
Konsep tersebut menjadikan The Banjoemas Resto & Cafe sebagai salah satu destinasi wisata kuliner Banyumas di Jakarta yang diproyeksikan mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Selain menjadi pusat kuliner, tempat ini juga disiapkan sebagai ruang pengembangan sumber daya manusia dan kewirausahaan.
Prof. Akhmad Sodiq menegaskan bahwa mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman perlu memperoleh pengalaman nyata sebelum memasuki dunia kerja.
Karena itu, The Banjoemas Resto & Cafe akan dibuka sebagai laboratorium praktik bagi mahasiswa yang ingin belajar mengenai bisnis, manajemen, pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga pengelolaan usaha kuliner.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman praktis. Tempat ini dapat menjadi sarana magang, pembelajaran, bahkan pengembangan jiwa entrepreneur bagi generasi muda,” jelasnya.
Menurutnya, para alumni yang terlibat dalam pengelolaan usaha ini merupakan sumber inspirasi yang sangat berharga bagi mahasiswa.
Mereka tidak hanya sukses dalam dunia profesional, tetapi juga memiliki pengalaman yang dapat ditransformasikan menjadi ilmu dan motivasi bagi generasi berikutnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Norman Arie Prayogo, menyebut The Banjoemas Resto & Cafe sebagai langkah awal dari gerakan besar alumni dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis kolaborasi.
Ia mengatakan bahwa proyek ini merupakan pilot project yang diharapkan menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai usaha baru yang dibangun oleh alumni Unsoed di berbagai daerah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa alumni tidak hanya berkumpul dalam kegiatan seremonial, tetapi mampu membangun karya nyata yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya,” katanya.
Menurut Norman, kekuatan alumni terletak pada jaringan, pengalaman, dan semangat gotong royong yang dimiliki.
Apabila potensi tersebut dikelola secara baik, maka akan lahir berbagai program produktif yang mampu mendukung kemajuan almamater sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Keberadaan The Banjoemas Resto & Cafe juga diharapkan menjadi pusat aktivitas komunitas Banyumas di Jakarta.
Berbagai kegiatan budaya, diskusi kebangsaan, pelatihan kewirausahaan, pertunjukan seni, hingga pertemuan komunitas direncanakan akan digelar secara berkala di tempat ini.
Dengan demikian, restoran ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat makan, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial dan pelestarian budaya Banyumas di ibu kota.
Bagi masyarakat Banyumas yang merantau ke Jakarta, kehadiran The Banjoemas Resto & Cafe menjadi ruang pelepas rindu terhadap kampung halaman.
Sedangkan bagi masyarakat umum, tempat ini menjadi jendela untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya, tradisi, dan kuliner Banyumas yang selama ini menjadi salah satu warisan budaya Nusantara.
Grand Opening The Banjoemas Resto & Cafe membuktikan bahwa budaya lokal dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan jati dirinya.
Melalui kolaborasi antara alumni, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat, tempat ini diharapkan menjadi ikon baru kuliner khas Banyumas di Jakarta sekaligus simbol kuat persatuan keluarga besar Universitas Jenderal Soedirman.
Lebih dari sekadar restoran, The Banjoemas Resto & Cafe adalah rumah bersama, tempat bertemunya kenangan, budaya, pendidikan, dan masa depan dalam satu harmoni yang menginspirasi.
Red: Irwan Hasiholan


